Demikian pula ketika kita bermimpi buruk. kita bisa menangis sedih saat terbangun. jantung berdegup kencang , bahkan tubuh kita bisa terjatuh dari ranjang. tetapi beberapa jam setelah itu kitapun melupakannya. bisa saja sewaktu-waktu kita teringat mimpi itu, tapi terasa biasa saja karena itu toh hanya mimpi , bukan kenyataan.
Dunia ini pun demikian hanya sebuah ilusi atau tipuan yang tidak nyata. Allah swt. menghiasi dunia yang hakekatnya tipuan ini dengan perhiasan yang menyilaukan. mata kita terpesona dengan keindahan - keindahan dunia hingga berupaya sekuat tenaga untuk meraihnya. Kita bisa menggegamnya , tapi hanya sekilas saja setelah itu hilang.
Saat miskin orang membayangkan menjadi orang kaya. Ketika kekayaan berhasil didapat ia menjadi senang . Tetapi pasti tidak sesenang apa yang ia bayangkan saat miskin, " Ternyata kayak gini aja jadi orang kaya , " gumamnya. Justru ketika kaya ia banyak di hantui rasa takut , khawatir tidak senang dan sebagainya.
Dunia ini fana, tidak abadi sebagaimana mimpi yang terasa nyata sesaat setelah terbangun saja. Selebihnya terasa semu. Kelezatan dunia begitu menggoda ketika kita belum mencicipinya. Saat mencicipi kita merasa enak, tetapi tidak lama. Selebihnya biasa saja , kesenangan yang rutin itu - itu saja hingga membosankan.
Kesenangan abadi ialah di akhirat kelak, yakni kesenangan berjumpa tuhan di surga. Tetapi di dunia ini sebenarnya kita dapat merasakan kesenangan yang hakiki , yakni kesenangan saat kita dekat dengan Allah Swt, sang pemilik kesenangan . Inilah kenyataan yang sebenarnya , bukan sekedar tipuan .
Dunia ini adalah hijab ( Dinding Penghalang ) paling tebal untuk dapat melihat wajah tuhan. Agar kita dapat melihat - nya , maka kita harus meng
gaibkan dunia , membuatnya tidak nyata, menganggapnya sesuatu yang semu ( tipuan ) karena sejatinya memang demikaian. Hanya wajah Allah saja yang dicari di balik kesemuan dunia ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar